J o d o h (episode 1)


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Karena ini perintah Allah, saya yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan saya.
(Siti Hajar – di antara Bukit Safa-Marwa)

Teringat kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim As, ketika ditinggalkan bersama Ismail yang masih bayi oleh suaminya, sendirian di lembah tandus tak berpenghuni. Ketika itu ia masih harus menyusui anaknya dan membutuhkan air untuk mereka berdua. Ia bimbang antara mencari air atau meninggalkan Ismail di bukit itu sendirian. Dengan ketabahannya, Siti Hajar lalu berlari di antara Bukit Safa dan Marwa, bolak-balik sebanyak 7 kali hingga akhirnya menemukan sumber air. Sambil berlari, ia berpasrah diri kepada Allah dan berkata,

Ya Allah, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan rizki dari-Mu.

Kira2 ceritanya seperti itu…
Nah trus hubungannya sama jodoh apa ya? Jelas berhubungan sih kalau menurut saya. Karna jodoh adalah rizki dari Allah juga kan?

Semalem saya ngobrol dengan seorang sahabat yang lagi getol-getolnya mencari jodoh. Sama seperti saya juga kali ya hehe.. Kayanya tuh tiap kemana-mana di dahi ini kaya ada senter nyorot kemana-mana ada tulisan ‘LAGI NYARI JODOH’😀

Usia 25an tuh memang lagi semangat2nya, pokonya saya harus segera nikah. Tapi karna waktu itu saya pacaran ga seiman, akhirnya pasrah bahwa mungkin memang belum jodohnya. Ya iyalah, nikah kan ibadah, tapi masa niat beribadah kepada-Nya tapi maksain nikah dengan cowo ga seiman, yg jelas2 dilarang juga oleh-Nya.

Saat itu memang susah banget ikhlasnya. Kok udah tinggal selangkah lagi menuju gerbang pernikahan trus malah putus. Sebelumnya saya sempet beribadah umroh dulu, didepan Ka’bah berdoa dan minta sama Allah supaya diberi petunjuk. Alhamdulillah, sepulang kembali ke indo, Allah benar-benar menunjukkan jalan. Putus. Hehee..

Akhirnya ‘pasrah’, walopun ga bisa dibilang pasrah banget. Dulu sih masih ada protesnya. Sempet nyalahin orang tua juga yang memang menentang keras hubungan saya dengan si (mantan) pacar. Astaghfirullaah..

Masa-masa setelah itu tuh kayanya berat banget dilewatin. Pasrahnya akhirnya berubah bentuk jadi ga kepengen lagi nyari jodoh. Ga ngelakuin ikhtiar sama sekali. Kalo Allah ridho, akan dipertemukan secepatnya dengan jodoh saya. Gitu mikirnya..

Trus akhirnya ketemu si mantan yg terakhir. Mulai semangat lagi deh.. Mulai diniatin bahwa ini yang terakhir dan harus nikah. Ga pengen buang2 waktu lagi pokonya. Dan sekali lagi, ternyata Allah belum memberikan ridho-Nya agar kami berjodoh. Putus lagi..😉

Setelah itu mulai deh muhasabah. Introspeksi diri, nyari apa yg harus diperbaiki dari diri saya. Heheu.. Mulai tanya sana sini juga. Masa-masa itu pun akhirnya diketemuin sama beberapa orang cowo, sempat dekat walaupun ga pacaran karna saya memang udah ga pengen pacaran lagi. Dan ternyata ga ada yang cocok juga.. Mulai bertanya-tanya lagi, ini apa yang salah ya?

Semalem saat ngobrol dengan sahabat saya, dia nanya, “Kemapanan apakah poin penting dalam mencari jodoh?” Dan banyak pertanyaan lainnya.. Karna dia juga merasa banyak ketidakcocokan dengan calonnya saat ini.

Ketidakcocokan. Hmm… Akhirnya mulai mikir. Kenapa ga cocok? Karna ga suka? Karna ga sesuai keinginan? Nah nah.. trus keingetanlah ucapan seorang sahabat saya yang lain :

“Pernah mikirin apa keinginan Allah?”

Hmm.. This is the point. Kami terlalu mikirin apa yang jadi keinginan diri sendiri. Pengen jodoh yang begini, pengen jodoh yang begitu. Ga suka cowo yang begini, ga suka cowo yang begitu. Dan sama sekali lupa, apa sih keinginan Allah untuk kita..

Akhirnya, aku nyoba nyimpulin sendiri. Selama ini kata pasrah itu cuman ada di mulut, tapi nyatanya mentok sama keinginan sendiri. Maksain apa yang ada di kepala tentang kriteria jodoh ideal, harus sesuai dengan pria yang ditemuin.

Punya kriteria sendiri sih boleh. Boleh banget memilih jodoh yang akhlaqnya baik, yang soleh, taat pada Allah. Rasulullah SAW pun menganjurkan seperti itu.

Ga ada yang ngelarang juga nyari jodoh yang mapan. Atau setidaknya ada potensi untuk jadi mapan. Dan potensi untuk jadi mapan itu selalu ada. Yang ngatur rizki kan Allah juga.. Yang hari ini masih narik becak, besok-besok bukan ga mungkin jadi milyarder.😉

Nyari yang ganteng juga wajar hihii… Namanya juga cinta itu tumbuhnya dari mata lalu ke hati. #uhuk😀 Tapi apakah ketampanan itu lantas jadi kriteria? Hehe..

Yang ga boleh itu maksa harus sesuai keinginan. Gitu kan? Lalu terngiang-ngiang lagi ucapan Siti Hajar ketika mencari air di bukit Safa-Marwa tadi…

Firman Allah SWT :

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepada-Nya.” (Al A’raaf 189)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) di antara hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya dan Maha Mengetahui.” (An-Nuur 32)

Rasulullah SAW bersabda :

“Nikah itu sunnahku, barang siapa tidak suka, ia bukan golonganku.” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah Ra.)

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

Jadi jelas menikah itu adalah salah satu jalan untuk beribadah kepada-Nya. Jadi bisa diartikan juga kalau menikah itu untuk melaksanakan perintah Allah dan memuliakan sunnah Rasul-Nya, so harusnya sih sama seperti Siti Hajar yang pasrah saat melaksanakan perintah Allah, udah seharusnya kita yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan niat baik seseorang untuk menikah. Dan belajar dari Siti Hajar yang bolak-balik Safa-Marwa sampe 7 kali, harusnya sih ikhtiarnya juga ga boleh berhenti. Pasrah, bukan berarti berhenti berusaha kan.. Selama ikhtiar itu dilakukan tanpa melanggar aturan-Nya, ikhtiar itu juga jadi jalan ibadah kepada-Nya lhoo.. Dan, insyaAllah niat baik kita untuk menikah juga sudah tercatat sebagai pahala. Bahkan kalaupun kematian datang menjemput sebelum kita bertemu jodoh kita, insyaAllah niat dan ikhtiar kita sudah tercatat sebagai amal baik di sisi Allah.

Satu lagi pesen sahabat saya yang ga kalah pentingnya, “Bersyukur!”. Bukannya ngorek-ngorek kekurangan dari si calon pasangan dan malah jadi tambah puyeng. Huehee..

Sssoooo…. Yuk mulai lagi, lurusin niat, menikah untuk melaksanakan perintah-Nya dan memuliakan sunnah Rasul-Nya. Yakin bahwa Dia Yang Maha Rahman dan Maha Rahiim akan memudahkan dan ga mungkin menyia-nyiakan niat baik kita.

Doa+ikhtiar ga boleh putus, berserah dan berharap hanya pada-Nya karna Dia yang akan mempertemukan kita dengan siapapun jodoh kita, dimanapun itu dan pada saat yang tepat. Sesungguhnya, Dia Yang Maha Mengetahui.

One response to “J o d o h (episode 1)

  1. Pingback: J o d o h (episode 2) | the sand between my toes·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s