Chain 8 : Kesandung Suku


Sebelum ngelanjutin cerita tentang si item, sekarang saya mau flash back lagi ke kejadian sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu seorang kerabat dari keluarga mrs D bermaksud ngejodohin anaknya dengan saya dan saya tolak dengan tegas, yang lagi-lagi bikin saya ribut dengan kedua orang tua saya. Sebelumnya juga sempet ada kejadian yang sama, waktu itu saya masih kelas 2 sekolah menengah. Saat itu sebenernya awal mula saya ‘benci’ dengan suku saya sendiri. Untuk alasan yang ga bisa saya jelasin disini, tapi sebenernya sangat ga adil karna itu sama aja menyamaratakan suku saya sendiri. Dan untuk alasan yang sama juga, saya menolak perjodohan dengan kerabat saya itu.

Menyesal? Ga perlu deh kayanya, mungkin memang belum jodoh. Yang perlu saya sesali mungkin hanya sikap saya waktu itu. Tapi Alhamdulillah, teguran itu akhirnya datang… Dan akhirnya nyadarin saya skarang ini.

Image

28 Juli 2013

Saya denger kabar kurang meyenangkan ini dari miss A. Awalnya saya masih bisa tenang saat pertama kali denger kabar ini. Saya pikir, ga adil banget ya saya ‘dituduh’ seperti itu setelah mereka tau suku asal saya, tanpa kenal saya sebelumnya. Ketemu aja ga pernah.. Sebenernya yang bikin saya sedih saat itu karna saya ga tau gimana ngejelasin ini ke orang tua saya, saat suku saya disebut sebagai suku yang identik dengan karakter keras dan kasar.😐

Haruskah saya tersinggung? Iya, itu sempet terjadi. Tapi yang lebih saya khawatirin lagi kalo saya harus nyakitin orang tua saya saat mereka tau soal ini. Mrs D…, kayanya hampir semua ibu pernah ‘cerewet’ dan ngomelin anaknya. Tapi beliau adalah seorang yang sangat tertutup, bahkan jarang banget dia memperlihatkan air matanya. Saat dia lagi kesel sama saya, atau saat dia tersakiti oleh saya, dia hanya nyimpen perasaannya sendiri. Saya hanya melihatnya menangis dalam doanya. Selain itu, hampir ga pernah, kecuali saat ada keluarga kami yang meninggal.

Mr D, dia memang lebih ‘cengeng’ dibanding ibu saya. Dia juga orang yang amat sangat ‘keras’ dalam ngedidik saya. Tapi, ga pernah sekalipun saya ngeliat orang tua saya berkata dan berlaku keras pada orang lain, apalagi kasar. Dulu, saat dia masih memegang jabatan penting dalam pekerjaannya, seinget saya mr D adalah seorang yang sangat santun dan sangat menghargai bawahannya. Kemana-mana beliau dianter oleh supir dan beliau terbiasa duduk di depan di samping supir. Beliau juga ga seperti bos-bos pada umumnya yang selalu dibukain pintu oleh supirnya. Setau saya, dulu dia sering menghadiri meeting di resto-resto kelas atas, baik itu dengan klien ataupun dengan rekan sekerjanya. Tapi ga pernah sekalipun dia ngebiarin supirnya nungguin dia di parkiran. Supir kami selalu diajak masuk ke resto itu, walaupun ga makan semeja dengan beliau. Di rumah pun begitu, tiap makan malem di rumah, dia selalu ngajakin satpam di rumah kami untuk makan semeja dengan beliau.

Volume suaranya memang lebih keras dibanding orang-orang pada umumnya, dan sebelum orang lain mengenalnya lebih dekat, mungkin dia bakal disangkain lagi marah tiap ngomong dengan suaranya yang kenceng. Hehee.. But, that’s my mr D. Keputusannya yang kadang kontroversial dan ga jarang berbeda pendapat dengan saya, tapi ga pernah sekalipun saya ngeliat beliau bersikap ga menyenangkan pada orang lain. Bahkan ketika ia ditipu, disakiti, dan dizhalimi oleh orang lain, beliau ga membalas sedikit pun.

Lalu pantaskah suku kami disebut keras dan kasar? Saya pikir, tayangan di TV juga cukup berpengaruh. Kontributor berita dari daerah saya di salah satu TV swasta yang selalu menayangkan berita, mungkin adalah yang paling aktif ngeliput tentang mahasiswa yang (lagi-lagi) berdemo, atau masyarakat di kota kami yang (lagi-lagi) mengamuk. Sementara itu, orang tersabar yang pernah saya kenal di dunia ini adalah nenek saya sendiri, ibu dari mr D.

Ya, mungkin ini hanya pembelaan saya aja. Saya juga ga bermaksud untuk menyombongkan kedua orang tua saya, in sha Allah maksudnya bukan seperti itu. Saya sendiri mengakui, saya bukan orang yang lembut. Saya juga bukan orang yang pandai bertutur kata dengan baik. Apalagi saya hanya pendatang di kota ini, yang ga terbiasa berbicara dengan bahasa daerah sini yang ‘halus’. Saya juga mengakui, bahwa beberapa orang dalam keluarga besar saya, adalah orang-orang terkeras yang pernah saya kenal. Saya juga ga nyalahin kontributor berita yang seringkali menayangkan berita tentang massa yang mengamuk di daerah saya. Mungkin memang betul, suku saya identik dengan karakter ini. Dengan cuaca di daerah kami yang relatif panas, kuliner khas yang berbahan dasar daging sapi dan penganan-penganan kecil yang terkenal manis, ga aneh memang kalau masyarakat dari daerah kami memiliki karakter khas seperti itu. Tapi pantaskah kami semua disamaratakan?

That’s it! Akhirnya, pertanyaan itu kembali pada diri saya sendiri, ketika akhirnya orang tua mister R menolak saya karna darah yang mengalir di tubuh saya, takdir yang tidak mungkin saya tolak. Tapi akhirnya pertanyaan itu memang harus saya tanyakan pada diri saya sendiri. Pantaskah saya menilai suku saya sendiri seperti saya menilainya 5 tahun yang lalu?

Image

3 responses to “Chain 8 : Kesandung Suku

  1. Pingback: Chain 7 : Jika Allah menghendaki sesuatu, Dia menyiapkan sebab-sebabnya | the sand between my toes·

  2. Pingback: Chain 9 : Si Item | the sand between my toes·

  3. Pingback: Indahnya Perbedaan | the sand between my toes·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s