Sebutlah Nama ALLAH Di Kala Senang Maupun Susah


“Be mindful of Allah..” Hingga detik ini, tulisan itu saya jadikan status di BBM saya. Saya diamkan, tidak juga saya hapus. Sampai teringat kisah Nabi Yunus as. ketika berada di dalam perut ikan paus. Hmm…, akhirnya saya bertanya pada diri saya sendiri, benarkah saya selalu mengingat Allah..? Apakah cukup hanya dengan menuliskan seperti itu Allah selalu ada dalam pikiran saya..? Apakah cukup mengingat Allah tanpa melafazkannya..?

Alhamdulillah… Pembelajaran lagi rupanya…🙂

Coba kita simak dulu sekilas kisah Nabi Yunus as. berikut:

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari berbangkit.

(QS. Ash-Shaaffaat, 37:143-144)

Sesungguhnya Allah SWT mengeluarkan Nabi Yunus as. dari perut ikan paus tersebut, bukan karena beliau berdoa kepada-Nya, tapi karena beliau terus menerus mengingat Allah SWT. Allah SWT mendengar ketulusan taubat Nabi Yunus as. ketika beliau bertasbih di dalam perut ikan. Lalu Allah menurunkan perintah kepada ikan itu agar mengeluarkan Nabi Yunus as. ke permukaan laut dan membuangnya di tepi pantai.

Doa Nabi Yunus as.

Allah SWT mengilhamkan Nabi Yunus as. untuk membaca doa tersebut. Bentuk doanya dalam permulaannya adalah tahlil, pertengahannya tasbih dan penghujungnya adalah pengakuan bahwa beliau telah melakukan dosa. Dzikir yang bila kita mengucapkannya dan kita hayati dengan sungguh-sungguh in sha Allah akan menimbulkan keinsyafan dalam diri kita, pengakuan bahwa kita telah menzalimi diri kita sendiri. Subhanallah…, indah sekali pembelajaran yang Allah berikan melalui kisah ini…

Saya sendiri menyampaikan kisah ini dari sudut pandang ketika kita menghadapi suatu masalah, hendaknya teruslah mengingat Allah. Maknanya begitu dalam, dengan diawali kalimah tauhid ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Allah sebagai satu-satunya tempat mengadu, satu-satunya tempat berharap. Permulaan doanya menunjukkan kemantapan tauhid Nabi Yunus as. kepada Allah SWT. Pertengahannya adalah tasbih, merupakan suatu bentuk pengakuan ‘Maha Suci Allah’. Sesungguhnya, setiap kesulitan yang ditimpakan kepada kita, bukanlah suatu bentuk penganiayaan atau penzaliman kepada diri kita. Namun, hendaknya kita selalu meyakini bahwa setiap masalah itu tidak lain adalah cara Allah SWT menyayangi umat-Nya.

Kami tidak menzalimi mereka, justru merekalah yang menzalimi diri sendiri.

(QS. An-Nahl, 16:118)

Di akhir doa ini, Nabi Yunus as. memilih cara yang lembut dan beradab untuk mengakui kesalahannya dengan merendahkan diri kepada Allah SWT. Beliau sadar bahwa segala kesulitan yang menimpanya saat itu adalah disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Bentuk pertaubatan yang indah, disertai ketulusan oleh seorang Nabi Yunus as.

Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).

(QS. Asy-Syuraa, 42:30)

Kisah Nabi Yunus as. tadi adalah satu bentuk dakwah bagi kita ketika menghadapi kesusahan. Lalu bagaimana ketika senang..? Masih perlukah mengingat Allah? Hehee.. pertanyaan ini ga perlu saya jawab lagi ya. Dzikrullah atau mengingat Allah itu adalah kehidupan. “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah seperti perbandingan antara hidup dan mati,” begitu sabda Rasulullah SAW.

Dzikir yang paling sederhana adalah dengan lisan menyebut nama Allah. Dalam tingkatan yang lebih tinggi, dzikir adalah menghadirkan konsep Allah di dalam hati, dimana hati kita terjaga selalu untuk-Nya. Sedangkan yang terbaik adalah mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur’an di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dzikrullah juga merupakan sebuah keikhlasan ketika kita beribadah, melaksanakan haji, berinfaq, bershodaqoh, berpuasa, dll. Mengingat Allah, menghadirkan Allah, melakukan segala amal perbuatan karena-Nya dan hanya untuk-Nya.

Pembahasannya sebenarnya bisa jadi melebar ya hehee.., tapi maafkan saya karena kefakiran ilmu saya yang belum bisa menjelaskan lebih dalam. Pesan singkat dari seseorang “Sebutlah nama Allah di kala senang maupun susah” itu akhirnya memang begitu membekas buat saya. Buat saya pribadi, membasahi lidah dengan menyebut nama-Nya menimbulkan ketentraman dan pastinya lebih fokus juga. Bukan hanya sekedar menuliskannya di status BBM tentunya… In sha Allah…🙂

Wallahu a’lam…

One response to “Sebutlah Nama ALLAH Di Kala Senang Maupun Susah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s