Indahnya Perbedaan


Beberapa hari yang lalu, keluarga saya ‘mendapat tugas’ untuk mengantar kerabat dekat saya lamaran. Ceritanya sih begitu, atau mungkin lebih enak disebut silaturahmi antara dua keluarga besar yang akan bersatu. Dua keluarga yang memiliki etnis, suku dan bahasa yang berbeda.

Orang tua calon pengantin wanita adalah sepasang guru olahraga. Anak-anaknya pun memiliki prestasi di bidang olahraga, satunya atlit anggar, sedangkan si calon pengantin wanita adalah seorang atlit olahraga voli. Orang tua calon pengantin pria juga adalah pasangan pemain voli yang berprestasi pada zamannya. Sedangkan si calon pengantin pria masih aktif sebagai atlit di sebuah tim kesebelasan sepak bola di Indonesia. Dalam hal ini, dua keluarga ini memang klop. Latar belakang mereka yang sama-sama memiliki minat tinggi pada bidang olahraga menjadi pemersatu bagi mereka.

Namun perbedaan latar belakang dari segi suku dan bahasa yang sangat kontras di antara mereka membuat saya kagum. Keluarga A menghadirkan orang dari suku B sebagai ‘penengah’ bagi mereka. Sedangkan keluarga B menerima keluarga A dengan tatanan kebudayaan mereka sendiri dengan cara yang amat santun. Perbedaan di antara mereka bahkan kadang menghadirkan kelucuan yang manis, menjadikan suasana silaturahmi bertambah segar. Asik yah..

Selama berada di sana, jujur aja ada perasaan bangga sekaligus haru di hati saya. Bangga karena saya berada di antara dua keluarga yang memiliki niat baik untuk melaksanakan sunnah Rasulullah SAW tanpa memandang perbedaan suku di antara mereka. Haru juga karena pengalaman pribadi saya sendiri (pernah saya ceritakan di artikel saya sebelumnya chain 8) membuat ‘perbedaan’ itu sendiri adalah big issue buat saya. Dendam pribadi..?!? Ahahaa…, bukan gitu juga sih, tapi terharu karena ternyata masih ada keluarga yang memandang latar belakang bukan menjadi halangan untuk bisa bersatu.

Saya sendiri terlahir di Makasar, dari kedua orang tua yang berbeda suku pula. Sementara keluarga besar saya sendiri hadir dari percampuran beberapa etnis, suku, bangsa, budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Makasar-Jawa, Mandar-Betawi, Mandar-Jawa, Sunda-Betawi, Bugis-Makasar, Makasar-Mandar, Makasar-Menado, Jawa-Toraja, Toraja-Makasar, Menado-Belanda, Belanda-Makasar, dan yang terbanyak adalah pasangan Makasar-Sunda. Unik dan kaya yah…

Pengalaman pribadi saya sendiri sebenarnya membuat kepercayaan saya terhadap issue seperti ini memang sempet surut, bukan karena saya tidak percaya pada kekuasaan Yang Maha Agung. Siapalah kita, hanya manusia ciptaan-Nya yang tidak mungkin menolak kehendak-Nya. But it could happen to anyone… Bisa aja saat ini kita mengagumi indahnya perbedaan, tapi saat pilihan seperti itu jatuh ke tangan kita, akankah kita tetap mengagumi perbedaan itu sendiri…??? Hmm..

PR berat buat saya sendiri sebetulnya, ketika saya dihadapkan pada pilihan seperti ini, semoga saya tetap bisa menentukan pilihan di jalan yang diridhoi oleh-Nya. Suatu saat saya pun ingin sekali diberi kepercayaan menjadi orang tua. Mudah-mudahan saat itu saya diberi kemampuan untuk selalu bijak dalam mengambil keputusan untuk anak-anak saya. Bukan karena kekaguman saya terhadap perbedaan itu, tapi karena Allah menyukainya. Karena Allah menciptakan kita dengan segala perbedaan yang ada…

In sha Allah.

antiperkauman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s