Palopo, Disini Semua Mimpi Saya Berawal


Lima tahun menetap di kota ini, membuat saya memang cukup akrab dengan kota Palopo. Kota yang jaraknya cukup deket dari Tana Toraja. Saya memang ga bisa cerita banyak tentang keindahan kota ini, saya hanya ingat pohon beringin raksasa berumur ratusan tahun yang saya lewatin bareng Papa tiap pagi pas dianterin ke sekolah.

Palopo juga ga bisa disebut maju kala itu, hanya ada satu pelabuhan kecil yang jaraknya cukup deket dari rumah saya. Biasanya sambil jalan pagi, kami sekeluarga mengunjungi pelabuhan ini untuk membeli ikan-ikan segar yang baru aja ditangkap para nelayan. Dulu ada nasabah Papa, namanya Pak Alex (almarhum), pemilik bengkel yang dulunya pernah menjadi kru di kapal pesiar asing. Otomatis dong, beliau ini cas cis cus banget inggrisnya dengan pengalamannya bertahun-tahun berkelana di lautan bersama turis-turis asing. Ahaaaa,,,akhirnya sampe juga ke inti cerita, tentang bagaimana mimpi-mimpi saya bisa berawal dari sini…

Bismillaahirrahmaanirrahiim… Sampe sekarang, Palopo memang masih rutin dikunjungi turis asing yang akan berwisata ke Tana Toraja, selain ngabisin waktu berlibur mereka menikmati kota Palopo. Mereka datang kesana menggunakan kapal pesiar yang biasanya selama 3-5 hari tertambat di Pelabuhan Tanjung Ringgit, Palopo. Isinya mayoritas turis-turis Prancis, sebagian lagi adalah turis-turis berkebangsaan Inggris. Karena latar belakangnya yang pernah bekerja di cruise serupa, Pak Alex menjadi satu-satunya orang kepercayaan untuk melayani segala kebutuhan kapal pesiar asing ini.

Pelabuhan Tanjung Ringgit, Palopo

Beliau menjadi supplier utama untuk kebutuhan pangan di kapal tersebut, sekaligus sebagai guide buat turis-turis asing yang ingin berwisata keliling kota Palopo dan Tana Toraja. Beliau juga memiliki Kedai Makanan yang jadi tempat singgah wajib para turis ini ketika berada di Palopo. Papa mengenal beliau dan mempercayakan kendaraan keluarga kami untuk dirawat oleh beliau, selain karena kesibukan Papa juga, Pak Alex pun akhirnya ditugasi untuk ngantar-jemput saya ke sekolah saat itu.

Pak Alex punya satu anak perempuan seumuran saya, namanya Lina. Sejak saat itu kami bersahabat, pergi dan pulang sekolah bareng, sekelas pula, sepulang sekolah pun saya masih maen bareng dia, ngerjain PR bareng, dll. Karena kemampuan bahasa Inggrisnya, otomatis orang pertama yang diwarisi kemampuannya ini adalah putri satu-satunya. Begitu juga awalnya hingga saya pun ikut belajar bahasa Inggris bareng Lina & Pak Alex di usia 7 tahun, setiap pulang sekolah.

Sejak saat itu juga, setiap ada kapal pesiar asing yang mengunjungi kota Palopo, Pak Alex mengajak saya & Lina kesana. Saat para turis sedang berwisata ke Tana Toraja, kami menikmati kapal pesiar itu, berkenalan dengan kru yang mayoritas berkebangsaan Philipina, kebagian roti-roti prancis, coklat, permen dan kue-kue yang ga pernah saya temui sebelumnya, berkeliling di atas kapal, nonton siaran TV asing yang waktu itu masih jadi barang langka banget buat saya, mengagumi nahkoda kapal yang waktu itu di mata saya emang keren banget dibalik seragamnya, sampe berkenalan dengan beberapa turis asing yang sebagian masih tinggal di atas kapal, bahkan nyaris makan ham juga di kapal itu iewwww….😀

palopo cruise

Seruuuuu…. Di usia 7 tahun, pengalaman kaya gitu adalah pengalaman luar biasa buat saya dan Lina. Kami tumbuh besar dengan pengalaman itu. Kami adalah dua anak kecil yang cukup dimanjain oleh para turis asing tersebut. Saat itulah pertama kalinya saya membangun mimpi-mimpi indah saya ingin mengunjungi banyak tempat indah di dunia ini. Berkenalan dengan para turis asing membuat saya ingin seperti mereka, juga ingin tau lebih banyak tentang mereka dan kebudayaan mereka.

Saya semakin bersemangat belajar bahasa Inggris dengan Pak Alex & Lina, bahkan itulah saat pertama kalinya saya sangat tertarik dengan kebudayaan Prancis dan ingin sekali belajar bahasa ini. Sayangnya, Pak Alex ga bisa bahasa Prancis dan saya baru berkesempatan belajar bahasa ini saat SMA. Waktu itu, sebenarnya saya juga pengen banget belajar bahasa Philipina karena keseringan ketemu kru-kru berkebangsaan Philipina di kapal itu. Tapi keinginan saya untuk bisa keliling dunia jauh lebih besar…. Dan tempat pertama yang ingin saya kunjungi ya Paris, Prancis…!!!😀

quotes never give up on a dream worth living, eiffel tower

Ahahaaa…, saya pikir ga perlu punya pengalaman kaya gini pun keknya banyak orang yang mimpinya sama kaya saya. Tapi mimpi saya, saya bangun dari pengalaman yang tumbuh bersamaan dengan hubungan persahabatan dan kekeluargaan. Sangat berharga buat saya… Pak Alex yang pertama kalinya berjasa memperkenalkan saya dengan bahasa asing dan membuat saya tertarik untuk terus mempelajarinya, menguasainya hingga saat ini. Waktu itu, masih jarang banget kan anak seumuran saya punya kesempatan belajar bahasa Inggris, apalagi dari kota kecil seperti kami.

Hingga detik ini, mimpi saya belum berubah… Bukan hanya sekedar mimpi seorang anak kecil yang tiba-tiba excited saat menaiki kapal pesiar asing. Tapi ini mimpi yang in sha Allah ingin sekali bisa saya wujudkan suatu saat nanti. Semoga Allah mudahkan, aamiinn….

One response to “Palopo, Disini Semua Mimpi Saya Berawal

  1. Pingback: Berawal Dari Sebuah Perbuatan Baik – bagian 1 (Senyum) | the sand between my toes·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s