Menikah (bagian 2)


quotes there is no such cozy combination as man and wife, nikah, jodoh

 

Barusan saya ngobrol dengan seorang teman. Dia cowo, 24 tahun, berpenghasilan 5-10 juta per bulan, dan merencanakan menikah 5 tahun lagi.😀

Dia bilang, “Mba, kalo ada cewe yang mau dikenalin ke aku, minta biodatanya ya. Isinya nama, tinggi/berat badan, etnis, pendidikan dan penghasilan. Biar tau ada kecocokan atau ga.” Trus aku nanya, “emang itu bisa menjamin cocok atau ngga?” “Ga menjamin kecocokan, tapi menambah pengetahuan dari awal, apakah kemungkinan cocok apa ngga.” Trus, “kenapa harus hal-hal itu yang ditanyain?” Ini dia alasannya…

  • Tinggi/berat badan : bisa ketahuan apakah orangnya menjaga kondisi fisik dengan olahraga agar BB ideal
  • Etnis : agar bisa mengetahui background keluarganya, karena pasti ortunya masih generasi lama yang masih kental adat walau sekarang mulai buka mata
  • Pendidikan : agar bisa tahu apakah level pemikirannya berada dimana, dari sini bisa lihat apakah ngobrol/topik diskusi bisa cocok atau ngga, pemikiran juga
  • Penghasilan : jadi tahu pendapatan dan bisa lihat gimana dia spend nya. Kalo pendapatan pas-pasan tapi glamor berarti dia tipe yang main bela beli aja. Finance nya kurang berarti

Ada yang sependapat? Atau mau protes?😀

Sebenernya mau sependapat atau protes bebas aja sih. Toh selera masing-masing orang bisa berbeda. Kalo saya sih ga sependapat hehee… Walopun dia bilang, biar gimanapun itu bukan hal mutlak, tergantung toleransi dan preference sendiri-sendiri. Ya, sekali lagi, balik lagi ke selera yaa…

Sebenarnya, beberapa kali ada yang nyaranin saya bikin CV, ceritanya mau dikenalin nih biar cepet ketemu jodoh. Ahaha… Tapi saya tolak mulu. Dalam hal ini saya punya pemikiran yang berbeda. Walaupun memang menurut saya, ga ada yang salah dengan tukar-menukar CV sebelum melakukan proses ta’aruf. Karna memang, ada sebagian orang yang kurang nyaman untuk ngungkapin jati dirinya secara langsung. So, wajar aja kok…

Tergantung isi CVnya juga apaan aja. Kalo itu isinya kaya yang tadi temen saya sebutin, saya sih ga gitu sependapat… Pilihan kita dianjurkan berdasarkan agama dan akhlaknya kan!? Nah trus kenapa juga fisik, etnis, pendidikan sampe penghasilan itu dibawa-bawa. Kalo informasi tadi hanya sebagai gambaran umum atau cover story dari proses perkenalan itu sendiri, ya ga masalah. Asal jangan dijadiin tolak ukur, apalagi syarat untuk melanjutkan proses ta’aruf. Ini menurut saya loh yaa, maaf kalo salah..😀

Mungkin, karakter, hobi, visi & misi pernikahan lebih menarik untuk dituliskan di biodata kita. Karakter, ketahuan kan apa dia seorang yang ceria, pemuram, pemalu, keras, atau tegas, dsb. Hobi juga secara ga langsung menggambarkan kebiasaan sehari-seharinya, bagaimana dia menghabiskan waktu, apa dia senang memasak, jalan ke mall, hang out dengan temen-temennya, atau dia senang menyendiri dengan membaca buku.

Lebih penting lagi, mengenai visi & misi pernikahan. Bagaimana cara dia memandang pernikahan itu sendiri. Apakah hanya sebagai institusi untuk mewujudkan impian duniawinya, atau bahkan lebih jauh dari itu, akhirat, ridho Allah… Dan wajar banget kalo hal ini disebut sebagai salah satu penentu kecocokan.

Kita memang ga mungkin ngikutin si calon 24 jam penuh untuk bisa tau sejelas-jelasnya seperti apa dia. Tapi banyak hal yang ga mungkin keliatan di CV. Misal, apakah dia rutin sholat lima waktu begitu denger azan, atau bagaimana dia memperlakukan orang lain, atau bagaimana dia meng-handle masalah, dll. Saya sendiri berpendapat, kalo itu semua hanya bisa diketahui kalo kita ngeliat langsung atau dari testimoni orang-orang terdekatnya. Yang perlu dihindari memang berkhalwat atau berdua-duaan, tapi boleh dong ketemu ditemenin perantara masing-masing.

Sahabat saya, yang berpengalaman sebagai customer service di sebuah bank, bilang gini, “Kalo urusan naklukin mertua, bagian gw deh… Ngapain gw bertaun-taun jadi CS kalo ngomong sama mertua aja ga bisa.” Hehee…

Yeap, kemampuan komunikasi, atau cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Apa kita bisa nyambung ngobrol dengan segala macem karakter manusia, apa kita bisa nyambung diskusi berbagai macem topik. Menikah itu ga hanya kita berdua aja kan, keluarga besar masing-masing yang karakternya beda-beda juga akan ‘ambil bagian’ di dalamnya. Dan kemampuan komunikasi inilah yang akan menjadi poin penting untuk ‘mengambil hati’ keluarga besar. Belum lagi kalo setelah nikah ada masalah antara suami-istri, kalo keduanya sulit komunikasi ya gimana mau beres masalahnya.

Menurut saya, chemistry lebih mudah terbentuk dalam interaksi direct. So.., memang harus ngobrol dulu sih. Kalo sms/bbm/telpon ga boleh, ya ketemu aja ditemenin perantara masing-masing. Perilakunya seperti apa, apa dia tipe orang yang pandai mendengarkan, apa dia bisa bersopan santun dengan orang lain, apa dia selalu meledak-ledak ketika berbicara, apa dia cukup pendiam atau orang yang membosankan, atau malah mendominasi pembicaraan, dll. Dan semua ini ga akan terbaca di CV atau biodata!!!

Sekali lagi, CV itu hanya sebagai cover story atau gambaran umum untuk memudahkan proses perkenalan. Tapi selama bisa ngobrol langsung dengan dia, bisa nanya langsung informasi yang kita butuhin, CV ini ga dibutuhin lagi. Lagi-lagi itu menurut saya loh yaa, sekali lagi maaf kalo salah..😀

Gitu aja sih, hehehee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s