Closing!


Saat menjadi pembiacara ABC Surabaya, seorang peserta bertanya,

“Saya memiliki tim yang sangat aktif lalu dia meminta saya menjadi pembicara Kaget yang dia selenggarakan, padahal saya sendiri baru belajar. Apa yang harus saya lakukan?”

Bagi saya, pertanyaan itu belum jelas, jadi saya pertajam dengan mengajukan beberapa pertanyaan,

“Seandainya ibu jadi pembicara Kaget, apa masalahnya?”

“Saya kan gugup Pak!” Jawabnya.

“Seandainya ibu presentasi di Kaget dengan gugup, apa masalahnya?”

“Nanti mereka tidak join Pak!”

“Seandainya semua peserta Kaget tidak join, apa masalahnya?”

Ibu ini diam. Akhirnya saya melanjutkan,

“Untungnya, bayi bisa berjalan dulu baru bisa bicara. Jika bayi bisa bicara dulu, saat belajar berjalan sering jatuh, mungkin dia akan bilang, “Mama, sepertinya aku belum saatnya belajar berjalan karena jatuh terus. Nanti aja ya Ma belajar berjalannya kalau sudah besar.”

Sering kita menuntut sempurna segera tanpa mau melalui proses belajar. Padahal gagal adalah bagian dari proses belajar. Artinya, tidak closing setelah melakukan edukasi adalah bagian dari masa yang harus kita lalui. Sama seperti masa belajar berjalan sering jatuh.

Lalu ada keluhan berbeda dari tim saya,

“Saya sudah puluhan kali edukasi tapi kok gak closing-closing? Mana kebutuhan hidup semakin banyak nih, saya stress Pak!”

Teman2, sebagai manusia kita perlu bijak menilai sesuatu, memilah mana masalah yang sebenarnya dan mana masalah bayangan.

Dari kalimat keluhan diatas, menurut Anda apa masalahnya?

1.Tidak kunjung closing,
2. Kebutuhan hidup yang banyak,        ATAU
3. Stress?

Mungkin Anda akan bilang “tidak kunjung closing” karena jika ia terjadi maka masalah lain selesai.

Benar! Bila closing akan menerima komisi lalu kebutuhan hidup terpenuhi dan tekanan psikologis berkurang.

Cuma…. Dia bertanya kenapa gak closing-closing? Dia bertanya apa masalah yang dia alami sehingga tidak kunjung closing?

Dia membuat alur:

Tidak closing –> Kebutuhan hidup meningkat –> Stress

Tidak sadar, ini adalah kerangka berfikir yang dia bangun, termasuk saat melakukan edukasi. Dia membayangkan tidak closing, dia membayangkan kebutuhan hidup yang banyak, dan dia membayangkan stress dengan sangat baik.

Dia sudah mengalami apa yang dia bayangkan karena Allah senantiasa mewujudkan apa yang diprasangkakan hambaNya.

Lagi pula, semakin jelas bayangan tekanan hidup, semakin kencang dia edukasi, semakin “memaksa” prospek utk join. Tidak sadar, energi yang disalurkan adalah energi menyelamatkan diri bukan membantu prospek. Prospek pun merasakan “paksaan” itu. Ini alamiah.

Lalu apa solusinya?

Sebenarnya, apa masalahnya? Karena tahu masalah adalah setengah dari solusi.

Jadi masalahnya sebenarnya apakah tidak closing atau takut tidak mendapat rizki?

Sekarang semakin jelas kan masalahnya.

Tidak sadar, dia merangkai pola pikir:

closing = rizki atau

tidak closing = tidak mendapat rizki

Pertanyaan saya, apakah benar rizki kita hanya dari closing mesin?

Apakah Allah sudah mengirim pesan yang berbunyi:

“Wahai distributor Kangen Water, karena dirimu memutuskan bisnis kangen water, maka Aku putuskan rizkimu hanya dari closingan mesin.”

Apakah seperti itu?

Tentu tidak bukan?

Ada kesehatan yang kita nikmati, ada tenaga yang membuat kita bergerak, ada cahaya yang menerangi sekeliling kita, ada cinta dari orang-orang sekitar, ada udara bersih yang bebas kita hirup, ada… ada… ada… rasanya tidak bisa kita sebutkan satu per satu.

“Jika kau bersyukur akan Kutambah nikmatKu dan jika kau kufur, sungguh azabKu sangat pedih.”

Masih ingat dengan kalimat di atas?

Lantas, buat apa kita edukasi kalau bukan harapan closing?

Nah, ini yang perlu diperbaiki.

Edukasi sejatinya adalah wujud rasa syukur kita yaitu membagikan pengetahuan yang luar biasa tentang Amazing True Health.

Banyak orang terperangkap dalam pengetahuan yang menyesatkan sebagai akibat industrialisasi besar-besaran sektor kesehatan.

Ada pasien types yang dianjurkan mengkonsumsi minuman isotonik oleh dokter yang merawatnya. Atau penderita osteoporosis diberi susu sapi untuk menyembuhkan penyakitnya. Padahal minuman isotonik dan susu sapi bersifat asam (baca The pH Miracle).

Nah pengetahuan ini perlu kita sebarkan, makanya presentasi kangen water disebut EDUKASI karena tujuannya adalah memberi pengetahuan yang tepat tentang kesehatan khususnya dan kesejahteraan umumnya.

Masalah prospek itu closing atau tidak bukan urusan kita, tapi urusan Allah. Dia-lah yang membuka pikiran dan hati prospek kita karena Dia-lah Penguasa hamba-hambaNya.

Lantas, bagaimana dengan rizki kita?

Please deh, sebelum kita bisa makan, Dia sudah memberi kita makan (semasa kandungan).

So, apa yang ditakutkan sekarang?

Apa masalahnya sekarang?

Yuk sebar pengetahuan, kalau pun kita ditakdirkan mati, biarkan malaikat mencatat kita mati sebagai penyebar pengetahuan, penyebar kebaikan.

Wallahu’alam.

Depok, 19 Februari 2015

Ahmad Sofyan Hadi

#AmazingLCD1Febt

Khusus untuk yang mau Jualan Langsung LARIS klik disini http://yuk.bi/t5207

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s