Sebuah Mangkuk


Kisah ini saya dapatkan dari seorang teman, sangat menarik untuk disimak.

Di depan sebuah toko, pengemis itu duduk menunduk dengan mangkok di depannya. Orang yang berlaku lalang sesekali menaruh uang receh ke mangkuk. Segera si pengemis mengambil uangnya lalu menyelipkan ke kantong bajunya yang lusuh.

Entah sudah berapa lama si pengemis berada disana, bahkan pemilik toko pun sudah lupa. Namun konon, pengemis itu mengaku tak punya keluarga.

Hingga suatu hari, penjaga toko dikagetkan dengan keributan di depan tokonya, ternyata si pengemis telah meninggal. Orang-orang berkerumun membicarakan penguburannya.

Bukan apa-apa, tanpa keberadaan keluarga, siapa yang mau menanggung biaya penguburannya?

Tiba-tiba, seorang lelaki berkaca mata dengan pakaian rapi menyeruak ke depan mengambil dan memperhatikan mangkuk si pengemis dengan seksama.

“Aku yang akan menanggung biaya penguburannya.” Ujarnya pelan.

Orang-orang yang berkerumun begitu kagum dengan kemurahan hatinya, mengingat si pengemis tidak meninggalkan kekayaan kecuali beberapa koin receh yang tidak seberapa dan sebuah mangkuk yang sudah usang.

Si lelaki itu kembali menatap mangkuk yang dipegangnya, “Aku bekerja di kantor arkeologi kota ini dan mangkuk ini aku pastikan berasal dari dinasti Ming. Harganya bisa mencapai ratusan juta.

Aku akan menyerahkan ke kantor dan urusan pemakaman akan ditanggung sepenuhnya oleh kantor.”

***

Teman-teman, kadang kita merasa miskin dan bodoh sehingga tak kuasa berbuat apa-apa. Padahal disaat yang sama kita sedang menggenggam kekayaan dan kekuatan yang sangat mahal.

Banyak orang merasa minder, malu, serta tidak berani untuk melakukan edukasi. Mereka merasa kalau ada upline/leader, prospek pasti bisa diyakinkan dan closing. Bila leadernya belum bisa, mereka menunggu hingga leadernya bisa.

Ini seperti pengemis tadi yang menunggu uang recehan dari orang yang lewat. Si pengemis berfikir bila orang-orang menyumbang sedikit saja, itu cukup untuk makan seharian.

Dia melupakan kekayaan di hadapannya. Dia tak menyadari nilai mangkuk yang menjadi wadah uang recehan.

Pun dengan orang yang cenderung malu/minder melakukan edukasi, dia tak menyadari nilai terbesar dalam dirinya. Dia tak memahami betapa kekuatan itu adalah: diri sendiri.

Bantuan leader hanyalah “recehan” yang bisa menyambung hidup. Tapi diri sendiri adalah mangkuk itu yang -bahkan- tak ternilai harganya.

Tapi saya gagap dan kurang cerdas.

Justru itu, mumpung Anda gagap, sehingga Anda bisa menunjukkan ke orang yang fasih bicara, “saya aja bisa, apalagi Anda.”

Mumpung Anda kurang cerdas, sehingga Anda bisa menunjukkan ke prospek yang cerdas, “Saya aja bisa mengerjakan bisnis ini, apalagi Anda.”

Akhirnya, adalah pilihan kita untuk berharap kepada yang recehan atau memaksimalkan nilai mangkuk tadi.

Adalah pilihan kita untuk bergantung pada leader atau praktek langsung hingga diri sendiri memiliki kekuatan yang luar biasa, jauh lebih hebat dari leader Anda.

Lantas, bagaimana caranya agar kelemahan kita jadi kekuatan.

Sederhana.

Just Do It.

Wallahu’alam.

Ahmad Sofyan Hadi
-The Next Legend-

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s