Tentang DOA 2


Pagi ini saya sangat berhutang budi kepada Arawinda ‘atha’ Paramitha, tulisan beliau benar-benar menyadarkan saya tentang sesuatu yang hilang.

Tulisannya sederhana, tentang doa. Suatu hal yang saya juga bisa, bahkan sering. Namun kutipan doa Coach yang membuat saya tersadar kembali: berdoa memohon petunjuk!

“Salah satu habit beliau, setiap habis subuh selalu berdoa ‘Ya Allah tolong tunjukkan padaku, langkah apa yang harus aku lakukan hari ini untuk mencapai tujuanku’ tujuannya apa? Ya itu, KAT bisa menjadi sorotan dunia,  menaklukan dunia (conquering the world) dan berbagai ide ‘gila’ lainnya”

Inilah yang sempat hilang. Pertama, visi besar yang jarang atau mungkin tidak pernah dikomunikasikan dengan Sang Pencipta, kedua minta petunjuk kepadaNya SETIAP HARI bahkan untuk langkah-langkah kecil yang mesti dilakukan.

Saya ingat dengan pengalaman “Perjalanan Menuju Jatinangor” pertama kali saat mau kuliah.

Saat itu kakak bilang, “kalau mau kuliah, biaya cari sendiri!” dan saya nekat ke Jatinangor dengan bekal pakaian di tas, 1 buah buku, serta uang Rp 600 ribu.

Saat mendaftar ulang di Unpad, uang saya tidak cukup untuk biaya masuknya. Singkat cerita, saya bertemu dompet dhuafa setelah lupa jalan pulang menuju rumah saudara. Alias kesasar.

Setelah selesai daftar ulang beberapa hari kemudian, saya kembali dihadapkan masalah selanjutnya, menginap dimana? Makan dari mana?

Ternyata Allah mempertemukan saya dengan seorang teman yang sudah bayar kos namun tidak bisa ditinggali karena sakit selama beberapa bulan.

Setelah teman ini sembuh, saya menumpang di masjid kampus sekalian bertugas sebagai pengurus. Ada pun biaya makan, saya peroleh dari jualan setiap hari.

Seingat saya, 2 kali saya sakit hingga dirawat di rumah sakit karena alasan yang sepele, kekurangan sel darah putih. Sebenarnya itu bahasa halus dari kurang gizi.

Untuk menghemat anggaran, saya beli bakwan pagi hari seribu dapat 3, maksudnya pagi satu, siang satu, lalu untuk makan malam satu. Namun faktanya, bakwan itu ternyata tidak tahan lama karena habis dimakan teman.

Jadi saya sering nahan lapar sampai ada yang menawari makan atau nekat memberanikan diri minta ke teman. Tapi kalau sedang waras, saya memilih diam menahan lapar. Untungnya, dulu jarang waras.

Barangkali, keajaiban terajaib saya adalah hari ini saya masih bisa hidup, jujur, dulu bahkan tidak yakin bisa panjang umur sampai sekarang, saking seringnya tidak ketemu makanan.

Biasanya kalau lapar, saya banyak minum. Minum air punya teman maksudnya, serta tiduran agar menghemat energi. Disaat itulah saya punya doa pamungkas yang entah kenapa selalu ada keajaiban setelah itu,

“Ya Allah, kalau memang saya mesti mati hari ini, mati kan saja, tapi tolong lunasi hutang-hutang saya. Tapi bila memang saya mesti hidup, tolong beri saya makanan.”

Hal yang saya ingat adalah begitu sering saya berdoa seperti itu, dengan kata lain, begitu sering saya “berkomunikasi” dengan Allah. Bahkan sekedar minta makan!

Nah tulisan Atha yang menceritakan doa Coach SETIAP PAGI menyadarkan saya, dulu saya sering begitu dan memang selalu dikabulkan! Cuma minta makan, sesuatu yang masih menjadi masalah besar saat itu.

Maka kenapa tidak hari ini saya melakukan hal yang sama, berdoa meminta hal yang sama, minta makan, tapi bukan untuk saya, tapi untuk anak-anak yatim, orang-orang miskin, atau siapa pun yang meskipun kerja banting-banting tulang tetap saja kekurangan makan.

Mengingat makan, saat melihat seorang ayah menarik gerobak berisi rongsokan di malam hari, di atas gerobak ada 2 atau tiga anak kecil, lalu dibelakangnya mengikuti seorang wanita, saya sering bertanya dalam hati, apakah mereka sudah makan?

Atau saat melihat beberapa orang lelaki di pinggir jalan, berteduh di bawah pohon dengan cangkul dan perkakas lain disampingnya, mereka berharap ada yang membutuhkan tenaganya, namun melihat mereka diam di bawah pohon, artinya harapan mereka jelas belum terpenuhi. Pun saya bertanya dalam hati, apakah mereka sudah makan?

Rasanya, uang yang saya miliki tidak cukup untuk menjamin mereka semua bisa makan setiap hari. Namun rasanya, bila ada 100 orang, atau mungkin 1000 orang, atau bahkan 10.000 orang seperti saya, rasanya tidak mustahil mereka semua bisa dibantu.

Dengan kata lain, kita membutuhkan orang-orang kaya yang peduli, dermawan, serta senantiasa dekat dengan Tuhannya. Nah melalui bisnis ini, kita berproses menghasilkan orang-orang seperti itu!

Maka siapakah kandidatnya yang mesti kita temui hari ini? Siapakah yang bersedia menerima tantangan di masa depan? Siapakah yang mau berproses menjadi sosok yang peduli, dermawan, dekat dengan Allah, dan kaya?

Saya memutuskan untuk bertanya kepada Allah melalui doa. Setiap hari.

“Ya Allah, siapakah orang yang mesti saya temui untuk mewujudkan MIMPI BESAR saya?”

“Ya Allah, apa yang mesti saya lakukan hari ini untuk mewujudkan MIMPI BESAR saya?”

Akhirnya, kelemahan dan ketakutan itu milik saya, milik kita. Namun kekuatan dan keberanian itu milik Allah. Maka tak peduli siapa kita hari ini, saat mendapat kekuatanNya, tak ada yang sulit.

Jadi, di akhir Ramadhan ini, saya mengingatkan diri sendiri dan Anda yang membaca tulisan saya, sering-seringlah berkomunikasi dengan Allah melalui doa, minta petunjuk kepadaNya.

Jadi saat mendengar adzan, itulah saat Allah memanggil saya, Anda, dan kita semua untuk berkumpul menghadapNya, lalu tiap-tiap kita diperkenankan untuk menyampaikan permintaan kepadaNya.

Tanpa Allah, kita tak ada artinya. Tanpa rizki Allah, sungguh, Rp 48.500.000 tidak akan pernah bisa kita miliki. Hanya saat kita meminta kepadaNya, DIA memberi.

Ada banyak tugas kita di muka bumi sebagai bekal sebelum mati. Setiap nafas adalah hutang yang akan ditagih kelak di akhirat. Untuk apa ia digunakan?

Astagfirullahal adzim…

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba…

Ahmad Sofyan Hadi

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s