Pemilik (Usaha) dan Karyawan


Siang itu saya ke toko baju untuk membeli pakaian buat bapak. Awalnya saya hanya menunggu di mobil, sampai istri keluar toko meminta saya mencoba baju koko untuk bapak. Ukuran kami memang tak jauh beda.

Maka jadilah saya masuk toko diikuti 4 anak yang rata-rata usia 5 tahunan. Mencolok sekali memang, terutama saat keempat anak turun dari mobil dengan riang. Tepatnya berisik, seperti kawanan bebek keluar kandang.

Setelah mencoba-coba pakaian, anakku yang paling kecil mau pipis, saya celingukan mencari toilet, tapi tak nampak pintu yang bertuliskan “toilet” seperti yang ada di toko-toko pada umumnya.

Saya memutuskan bertanya ke pramuniaganya dan ia menjawab dengan senyum ramah,

“Tidak ada.”
“Disini tidak ada toilet?” Tanya saya meyakinkan.
“Iya tidak ada.” Jawabnya dengan sambil tersenyum.

Saya tidak puas, bagaimana semua karyawan disini buang air kalau tidak ada toilet? Mustahil bangunan 2 lantai ini tidak memiliki toilet.

Kebetulan di depan toko ada seorang lelaki usia 50 tahunan yang sedang mencuci mobil, persis di depan mobil saya. Mungkin dia pemilik toko ini, pikir saya dalam hati.

Benar saja, dia bahkan mengantarkan kami ke toilet yang ternyata ada di lantai bawah. Jadi bangunan toko yang dari luar terlihat 2 lantai, ternyata ada 3 lantai yang satu lantai dasarnya ada di bawah tanah digunakan sebagai rumah berikut tempat menyimpan barang.

Pantas saja karyawan tadi tidak berani menunjukkan toilet di lantai bawah, karena menyatu dengan rumah pemilik. Dia mungkin sungkan.

Ini bukan kejadian pertama bagi saya. Saat memasang mesin di rumah salah satu pembeli, saya minta izin ke satpam untuk ke toilet. Kebetulan hanya satpam yang saya lihat di rumah itu.

Dia mengajak saya keluar, melewati belokan komplek dan menunjuk ke pos satpam yang dibelakangnya ada pintu bertuliskan “toilet”. Mirip tempat jin buang anak sebenarnya.

Padahal rumah tempat saya memasang mesin sangat besar -setidaknya dibandingkan rumah saya- sampai ada kolam ikan di dalamnya. Tapi begitulah, satpam tidak berani menunjuk toilet di dalam rumah.

Berbeda saat esoknya saya ke rumah itu pas ada pemilik, dengan ramah si tuan rumah menunjuk toilet yang hanya beberapa langkah dari tempat mesin terpasang.

Pemilik dan pekerja memang beda kapasitas, beda perilaku, dan beda solusi yang ditawarkan.

Nah saat kita edukasi, dimanakah posisi kita di mata prospek? Seseorang yang dianggap sebagai pemilik perusahaan atau sebagai karyawan?  Ini bergantung dari kapasitas, perilaku, dan solusi kita kepada prospek.

Contoh sederhana adalah saat Anda meminta leader Anda untuk edukasi di Home Sharing yang Anda buat, apakah merasa sebagai pemilik bisnis dimana leader adalah Tim Ahli yang didatangkan dari jauh?

Atau Anda merasa sebatas “petugas pengumpul massa” dan berbisik kepada leader, “yang bener ya edukasinya” tanpa berniat untuk segera bisa memimpin edukasi sendiri.

Sekali lagi, saat leader Anda edukasi kepada prospek Anda, apakah Anda ikut menyimak, mempelajari, bahkan menjadi pendengar yang paling antusias? Atau Anda sibuk dengan urusan sendiri bahkan pergi dengan alasan “prospek sudah ditangani oleh si boss”.

Dampaknya apa? Prospek juga menilai siapakah “pemilik” bisnis ini. Bila Anda menjadi prospek, Anda merasa nyaman bekerja sama dengan pemilik atau dengan karyawannya?

Sikap kita melahirkan  KEPERCAYAAN.

Atau saat edukasi, Anda mendapat pertanyaan yang sulit. Apakah Anda menjawab sekenanya sekedar ingin “melampaui” pertanyaan prospek? Adapun join atau tidak join urusan belakangan. Atau Anda memilih,

“Pak/Bu, pertanyaan ini sangat bagus, saya belum pernah menemukan pertanyaan sebagus ini. Kalau boleh, beri saya waktu sampai besok untuk mendapatkan jawabannya.”

Bila Anda di posisi prospek, jawaban manakah yang mencerminkan sikap seorang pemilik bisnis? Lalu siapakah yang akan Anda pilih untuk bekerja sama?

Sikap kita melahirkan  KEPERCAYAAN.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana memupuk jiwa kita agar bermental pemilik?

Sebenarnya Anda juga sudah tahu. Coba bandingkan pemilik mobil dengan orang yang sekedar menjadi sopirnya. Siapakah yang paling PEDULI kepada mobilnya?

Siapa yang paling sering mengecek KM untuk memastikan jadwal service rutin tidak terlewat? Siapakah yang merasa tidak nyaman saat ada suara aneh terdengar dari dalam kap mesin?

Dengan kata lain, pemilik selalu yang lebih PEDULI daripada sekedar karyawannya.

Nah seberapa peduli Anda kepada bisnis ini?

Bila dasar bisnis ini adalah perkembangan pengetahuan (manusia), apakah Anda sudah punya rencana dan strategi untuk mengembangkan diri Anda dan tim? Atau Anda memilih menunggu instruksi dari leader?

Apakah Anda memilih bergerak kalau leader Anda bergerak? Atau Anda memutuskan untuk bergerak sendiri karena merasa bertanggung jawab penuh terhadap bisnis Anda sendiri?

Oya, karyawan bisa dengan mudahnya memutuskan berhenti tanpa beban, tinggal mencari pekerjaan lain yang sesuai. Apakah pemilik bisnis bisa melakukan hal serupa?

Pemilik bisnis memiliki tanggung jawab lebih besar dan karenanya memiliki pertimbangan lebih luas. Semua karena mereka memiliki KEPEDULIAN yang lebih tinggi daripada para karyawannya.

Lantas di posisi manakah Anda sekarang?

Wallahu a’lam.

Pameungpeuk, 20 Juli 2015

Ahmad Sofyan Hadi
-Mohon Maaf Lahir Bathin-

#IamNEXT
#6A2-3
#LCDJktRoni-Giana6Sept2015
#LeaderIsReader
#PlatinumSamurai
#KagetJktSofyan2Agustus2015
#KATripUmroh

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s