Paman Darby & Tukang Loak


Paman Darby & Tukang Loak

Saya membacanya lagi.

Ya, sebenarnya saya sudah baca, tapi entah kenapa tertarik untuk membuka halaman demi halaman. Hingga sampailah mata pada kisah “Tiga Kaki Emas”.

Kisah ini sudah pernah saya tulis di WAG ini yaitu kisah Darby dan pamannya yang berburu emas di Colorado tahun 1900an.

Paman Darby menemukan tambang emas setelah berminggu-minggu menggali, namun ia membutuhkan alat lebih dari cangkul dan sekop untuk mengangkat dan mengolahnya hingga menjadi uang.

Setelah kembali ke rumahnya di Williamsburg, Maryland, dia menceritakan temuannya ke keluarga dan tetangga. Akhirnya mereka membeli peralatan yang diperlukan untuk menggarap tambang.

Penggalian pertama sukses dengan mengapalkan ke sebuah pabrik peleburan emas, mereka semakin antusias untuk menggali semakin dalam dengan harapan yang semakin tinggi.

Setelah berminggu-minggu menggali, sesuatu diluar dugaan mereka terjadi; urat bijih emas menghilang! Mereka paham arti urat bijih emas dan mereka pun meyakini apa makna kehilangan urat bijih emas.

Di tengah rasa putus asa, mereka mencoba menggali lebih jauh lagi berharap menemukan kembali, namun sia-sia. Urat bijih emas tidak pernah mereka temukan.

Akhirnya Pamannya Darby memutuskan berhenti, lalu menjual perlengkapan tambang ke seorang tukang loak dengan harga murah. Mereka kembali bertani seperti sebelum menemukan tambang emas.

Esoknya, tukang loak segera memanggil insinyur terkemuka dan menceritakan kisah paman Darby, lalu setelah membuat kesepakatan, si Insinyur segera memeriksa tambang emas yang dimaksud.

Hasil temuan insinyur mengatakan kegagalan terjadi karena mereka tidak paham dengan “garis besar”. Bijih emas akan ditemukan tepat 3 kaki dari tempat Darby memutuskan berhenti.

Akhirnya, tukang loak segera menyewa beberapa orang dan tidak membutuhkan waktu lama, ia menjadi jutawan.

Bagi saya, kesalahan telak pamannya Darby bukanlah dia memutuskan berhenti, namun memutuskan berhenti tanpa konsultasi kepada ahlinya. Disinilah kesalahan fatalnya.

Berhenti atau tidak ini masalah strategi. Namun berhenti tanpa konsultasi sama buruknya dengan terus maju tanpa konsultasi.

Jadi sebagai sebuah strategi atau cara, keduanya membutuhkan konsultasi terlebih dulu. Itulah yang dilakukan Tukang Loak!

Banyak kasus dalam bisnis dimana seseorang merasa “sudah bekerja keras” namun belum juga menemukan “bijih emas” dalam hidupnya.

Tak perlu menyalahkan kerja keras, nasib, apalagi Tuhan. Cukup tanya, sudahkah Anda berkonsultasi? Kepada siapa berkonsultasi? Tentu kepada ahlinya, yaitu orang yang sudah sukses di bidang yang Anda geluti.

Jangan anggap ngobrol dengan “mantan pemain” yang sudah jatuh bangun sebagai konsultasi. Kecuali Anda memang menginginkan bernasib seperti “mantan pemain” tadi, sering jatuh bangun. Berkonsultasilah kepada orang yang Anda nilai sudah sukses.

Dalam konteks bisnis kita, saya menemukan leader-leader yang sukses hari ini adalah mereka yang memulai langkah dengan konsultasi.

Sampai ada seorang leader (saat itu baru memulai bisnis) yang konsultasi cara mendapatkan Rp 1 M dalam 2 tahun. Dia bertanya demikian karena memang membutuhkan biaya untuk pernikahan, hidup pasca nikah, serta kedua orang tuanya.

Sekarang, kepada siapa Anda berkonsultasi? Tentunya kepada leader aktif Anda yang terdekat.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara Anda konsultasi? Pertama, tetapkan dulu tujuan Anda di bisnis ini. Apa target Anda? Jadi konsultasi adalah membahas cara Anda mewujudkan impian melalui bisnis ini.

Selanjutnya kosongkan gelas Anda, ini bukan hanya tentang rendah hati dan tidak sombong, tapi tentang kesiapan menerima ide/gagasan yang dianggap aneh atau asing saat konsultasi.

Bila Anda ada di lantai tertinggi sebuah gedung dan memutuskan untuk pindah ke gedung sebelah, hal yang paling masuk akal dan murah adalah turun ke bawah lalu berjalan ke gedung yang Anda maksud lantas naik kembali hingga mencapai lantai tertinggi.

Bila Anda sudah mapan dan nyaman di lantai tertinggi, saran untuk “turun ke bawah” mungkin lucu dan melelahkan, Anda merasa bisa melompat atau memasang jembatan penghubung ke gedung sebelah.

Itulah tantangan konsultasi, tepatnya masalah. Merasa berat untuk melakukan materi konsultasi. Padahal, leader aktif Anda sudah mengalami banyak kesalahan, jadi tidak perlu diulang.

Maka saat ada orang yang belum mendapatkan apa yang mereka impikan melalui bisnis ini, pertanyaan pertama adalah: sudahkah mereka berkonsultasi?

Bisa saja, seseorang merasa lelah edukasi tidak kunjung closing lalu memutuskan mengurangi intensitas edukasinya asal tidak dicap berhenti hingga akhirnya tidak pernah edukasi lagi. Itulah yang dilakukan pamannya Darby.

Tapi bisa juga, ketika seseorang (masih) melihat peluang di bisnis ini lalu tertarik untuk serius, bahkan lebih serius lagi, dia segera menghubungi leadernya untuk konsultasi. Itulah yang dilakukan Tukang Loak.

Jadi, sekarang pilihan Anda mau jadi Pamannya Darby atau Tukang Loak. Satu hal yang pasti, bisnis ini hanyalah MENIRU. Tak lebih.

Jakarta, 19 Maret 2015

Ahmad Sofyan Hadi
-The Next Legend-

#6A2
#AmazingLCD
#IamNEXT

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s