Kibulan Susu


Jika kita mengacu pada konteks susu hewan sebagai produk, pada jaman dahulu dan membandingkan dengan susu hewan pada jaman sekarang, kita harus melihat secara keseluruhan, harus apple to apple, harus sejajar, supaya balance (seimbang) informasinya, tidak hanya melihat dari satu konteks, dari sisi Al Qur’an saja, atau hadist saja, tapi juga mau melihat dari sudut pandang lain yang juga mempengaruhi kualitas hasil susu yang akan dikonsumsi.

Kita tidak bisa mengabaikan faktor sejarah, faktor perkembangan ilmu pengetahuan yang lain, seperti ilmu peternakan, ilmu pertanian, perkembangan industrialisasi, dsb,

Jaman Rasulullah hidup, dimana industrialisasi tidak sepesat sekarang, hewan-hewan spt kambing, unta masih digembalakan secara bebas, hewan-hewan tersebut masih merumput dengan rumput asli, polusi udara juga masih sangat minim, meminum susu mungkin biasa dilakukan oleh Rasulullah.

Meskipun how much how often-nya (seberapa banyak, seberapa sering) dikonsumsinya, tidak diketahui dengan pasti. Tetapi kalau kita merujuk pada how much how often, saya pikir kita mengacu pada Al Qur’an, Q.S Surat Al A’raf (7):31, “Makan dan minumlah kamu asal jangan berlebihan”. Dan bagaimana pola makan Rasulullah secara keseluruhan yang lain, seperti tidak mengisi perut secara penuh, tp 1/3 diisi makanan, 1/3 diisi air dan 1/3 diisi udara.

Jaman sekarang, ketika tuntutan industrialisasi semakin meningkat, maka seperti hukum ekonomi, diupayakan dengan seksama bagaimana ternak bisa menghasilkan susu sebanyak2nya dengan modal seminim-minimnya. Akhirnya yang terjadi adalah pengelolaan ternak tanpa mengindahkan kebutuhan si hewan ternak itu. Banyak ternak yang diberi makan bukan hanya rumput, tp palet yang merupakan campuran daging2 dari hewan yg tua kemudian disembelih dan dijadikan makanan ternak. Belum lagi kondisi kandang yang sempit, yang membuat ternak tidak bebas bergerak, dan tidak pernah diajak keluar untuk digembalakan.

Jadi mengapa susu sekarang disebut tidak sehat oleh dokter Tan Shot Yen, bisa dibaca juga di bukunya Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme, itu karena proses pengolahannya, sejak dari pakan sampe proses pemerahan dan pasca pemerahan yang banyak mengalami rekayasa, seperti suntikan hormon, faktor pakan, dsb. Kalau sekiranya kita memang masih meyakini susu hewan ternak, terutama susu sapi itu sehat, silahkan datangi peternaknya, lihat bagaimana cara beliau memperlakukan hewan ternaknya, apakah digembalakan, apakah diberi makan rumput, apakah diperlakukan dengan baik? Hewan ternak yang diperlakukan dengan baik akan menghasilkan susu dan daging yang berkualitas. Sebaliknya hewan ternak yang diperlakukan dengan buruk, akan menghasilkan susu dan daging yang tidak berkualitas menurut saya. Dan susu dan daging yang tidak berkualitas, jika dikonsumsi oleh manusia maka bisa menimbulkan masalah kesehatan karena tidak bisa terserap sempurna oleh tubuh, malah menjadi racun tubuh.

Seingat saya, memang ada riwayat hadist Rasululllah, memuji susu. Dan kata ‘gemar’, kalau kata gemar itu menunjukkan pada Rasululullah setiap hari meminum, susu sepertinya tidak.

Saya belum menemukan satu pun hadist yang muttawwatir bahwa Rasulullah rutin setiap hari meminum susu.
(bersambung…)
(Lanjut)

Dalam kajian Thibbun Nabawi (Pengobatan ala Nabi), Rasulullah saw hanya disebutkan Beliau pernah dan menikmati saat meminum susu. Tidak pernah disebutkan secara detil bahwa Rasulullah meminum rutin setiap hari susu hewan, terutama susu kambing.

Rasulullah hanya pernah meminum susu ketika dalam kondisi-kondisi sbb: safar (dalam perjalanan), hijrah, dan perang.

Di luar kondisi itu tidak ada satu pun hadist yg muttawatir bhw Rasul meminum rutin susu setiap hari.

Jadi saya menganggap susu ini hanya boleh diminum benar-benar sekali-sekali saja, sebagai kebutuhan rekreasional. Tidak menjadi konsumsi rutin harian. Kalau ketika mau berpikir, ketiga kondisi tsb adalah dlm kondisi2 dmn membutuhkan tenaga besar dan sumber energi siap pakai, dalam hal ini dipilih susu.

Artinya, kalau ditarik di konteks kekinian, kalau sekiranya kita dalam kondisi perjalanan jauh, payah, atau kerjanya berat, misalnya jadi kuli di pelabuhan, jadi petani, jadi orang yang angkat-angkat barang, atau kerja apapun yang membutuhkan tenaga berat, maka bolehlah kita minum susu. Tapi kalau kerjanya cuma di depan komputer aja di rumah atau kantor, ngapain minum susu.

Itu, kalau bicara kondisi2 lho ya. Belum lagi kita bicara kondisi susu yang akan diasup.

Kalo benar-benar mau mau meniru Rasulullah minum susu, Beliau minum susunya segar lho ya. Dari susu yang ternak yang diperah dan langsung diminum. Bukan spt sekarang ini, seperti susu formula, yang sdh melalui pemrosesan yang panjang, sehingga susu yang cair bisa berubah menjadi bubuk. Kalau sudah melalui proses yang panjang seperti itu, pasti zat gizinya sudah banyak yang hilang. Kalau sudah begini, apakah susu menjadi makanan yang thoyib (baik)? Padahal antara manfaat dan mudhorot (kejelekan)-nya lebih banyak kejelekannya daripada manfaat (kebaikannya).

Padahal kita di anjurkan untuk mengasup makanan tidak hanya halal, tapi juga thoyib (baik). Makanlah makanan dan minuman yang halalan thoyyibah.

Jadi kalau mau niru Rasulullah saw, jangan setengah2, harus mau belajar secara menyeluruh, membandingkan antara konteks sejarah, dan konteks kekinian juga.

Jadi, jika seandainya kita ingin memerangi hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, seperti misalnya, di Al Qur’an katanya susu itu baik, tapi kok dokter Hiromi Shinya bilang susu gak baik, gimana ini? Wah sesat ini Hiromi Shinya. Kafir, haram pendapatnya diikuti.
—> Menurut saya, pendapat ini kurang tepat.

Hiromi Shinya itu ilmuwan lho. Beliau dokter spesialis gastroentrologi, penemu endoskopi, yang memiliki data klinis isi perut hampir 300rb pasien-pasiennya, dari beda ras, beda usia, beda jenis kelamin. Dalam Al Qur’an, kedudukan ilmuwan itu mulia. Ulil Albab, adalah ilmuwan, yang diberi kedudukan yang mulia dalam Al Qur’an tanpa memandang agamanya apa. Tentunya ini terkait sama ilmuwan yang jujur dengan keilmuannya ya. Bukan yang menggadaikan ilmu yang dimiliki untuk kepentingan pribadinya atau golongannya saja.

Harusnya pemikiran yang kita kembangkan adalah, “Lho, kok bisa susu sekarang kata Hiromi Shinya jelek, padahal di Rasulullah memuji susu?” Lalu lakukanlah penyelidikan. Oh, ternyata proses membuat susu ini yang beda dengan jaman dulu, pantes hasilnya beda.

Jadi, kalau mau memerangi, jangan perangi ilmuwannya. Ilmuwan itu hanya menyajikan fakta ilmiah. Kenyataan yang ada sekarang ini, sperti itulah faktanya. Jadi, kalau mau memerangi, terkait dalam hal ini, perangilah industri2 besar pemroduksi susu itu. Industri2 besar yang ada di Indonesia terutama. Perangilah mereka yang tidak memperlakukan hewan ternaknya dengan baik, tidak memberi makan dengan sewajarnya, tidak menyediakan lahan untuk menggembalakan ternaknya,

Perangilah industri2 besar itu, mengapa mereka memberi makan ternak dengan palet, yang kalau saja anda tahu, palet itu berasal dari cacahan daging sapi dari sapi2 tua yang disembelih kemudian dagingnya dihancurkan, dijadikan palet, lalu dicampurkan ke rumput, yang jadi makanan sapi. Anda bisa bayangkan susu macam apa yang dihasilkan dari ternak yang diberi perlakuan seperti itu. Ini informasi insya Allah valid krn salah saorang saudara ada yg dokter hewan yang menangani masalah per-sapi-an.

Sekedar info, untuk perbandingan, peternakan di Belanda memiliki 2 lahan rumput, yang ditanami rumput berkualitas. Taruhlah kita namakan lahan A dan lahan B. Jika sapi-sapi sedang merumput di lahan A, maka lahan B akan ditanami rumput. Ketika Lahan A sudah habis rumputnya, maka sapi akan digiring ke lahan B, yang rumputnya sudah tumbuh. Begitu terus dilakukan. Akhirnya di sana didapatkan susu yang berkualitas. Saya tau sendiri karena anak kawan saya, yang sehari2 rutin konsumsi susu di sini dan asma, saat berada di Belanda, minum susu sebanyak di sini, ternyata asmanya tidak kambuh lagi.

Jadi, kalau umat Islam ingin memerangi industri susu raksasa, buatlah peternakan2 yang ‘berkualitas’, dengan pakan ternak yang beneran (rumput), bukan pakan ternak hasil industrialisasi yang kenyataannya, minim gizi karena berasal dari bahan-bahan afkiran itu (daging2 sapi tua yang sudah tidak bisa diproduktifkan lagi).

Sekali lagi, kita hanya menjabarkan fakta. Silahkan  diolah sendiri dengan akal dan logika kita masing2.
Mas Achmad: kalau memang produksi susunya sdh baik dan halal. Berarti kajian berikutnya adalah kapan saat minum susunya. Krn saya menyontoh rosul, saya tdk meminum susu secara rutin. Tapi benar2 sekali2, untuk rekreasional.

Dan seperti Rasulullah saw, saya juga memilih mengkonsumsi susu yg segar, yg baru diperah. Bkn susu dalam bentuk bubuk yg sdh jauh dari bentuk aslinya.

Jadi ingat cerita salah seorang kawan di Madinah. Di sana susu kambing yg dijual di supermarket expirednya hanya 3 hari. Kalau tdk laku segera ditarik oleh produsen dan sptnya disalurkan utk bahan baku pembuatan kosmetik. Di sini kapan?

Butuh peran serta dan dukungan dr pemerintah utk melindungi masyarakatnya agar masyarakat selalu bs mengkonsumsi bahan2 makanan yg segar dan bermanfaat buat tubuh. Menurut saya demikian. Mohon maaf bila krg berk

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s