Dinosaurus dan Fenomena Kepunahan Spesies Kita


Hari ini mobil saya sedang di rawat di sebuah bengkel, konon katanya memakan waktu 10 hari sampai pulih kembali.

Maklum belajar menyetir menggunakan mobil baru, jadinya serba baru. Baru nabrak, baru nyenggol, baru baret, dan baru lepas kaca spion kanannya.

Maka jadilah hari ini beraktivitas dengan kendaraan umum. Tapi bersyukur jadi punya kesempatan membaca dan menulis.

Tiba-tiba saja saya tertarik dengan kejadian jutaan tahun silam, yaitu peristiwa besar yang telah memunahkan setidaknya 50% spesies di muka bumi, tepatnya kurang lebih 63 juta tahun yang lalu.

Nah segera saya mengunjungi mbah Google, lalu menemukan beberapa teori penyebab punahnya 50% spesies di muka bumi, termasuk dinosaurus.

Tim ahli purbakala pada tahun 1976 berpendapat bahwa musnahnya dinosaurus dari atas muka bumi disebabkan oleh karbondioksia yang banyak berada di dalam samudra.

Pemusnahan masalnya sendiri terjadi pada akhir periode 250 juta tahun yang lalu dan menyapu bersih 95 persen seluruh spesies.

Teori lain mengemukakan bahwa dinosaurus menghilang dari muka bumi karena kejatuhan meteor 65 juta tahun yang lalu. Dan hanya menyisakan 50 persen spesies di bumi.

Pendapat ini sama dengan yang saya yakini selama ini, ada hantaman benda luar angkasa yang menabrak bumi, otomatis dong penghuninya mati semua.

Ternyata eh ternyata, bukan itu penyebabnya! Masih dari sumber yang sama, katanya, hantaman itu menyebabkan meteor sendiri hancur menjadi batuan.

Bersama batuan bumi kemudian menyebar membentuk debu pekat. Lalu mengarak ke angkasa sehingga cahaya matahari tidak mampu menembus bumi.

Bumi menjadi gelap dan dingin selama 6 bulan. Ditambah awan belerang akhirnya menumpahkan hujan asam sehingga musnahlah kehidupan di permukaan bumi dan juga di lautannya.

Saya kira teori kedua lebih masuk akal karena lebih horor dan mematikan.

Bayangkan saja kalo debu meteor sampai menghalangi sinar matahari, gelap banget booo! Jangankan karena debu meteor, malam hari mati lampu karena ulah PLN aja udah bikin panik.

Nah ini belum selesai, masih ada hujan asam yang mengguyur bumi. Ini mengerikan! Hujan asam dapat mematikan plankton dan merusak nutrisi untuk tumbuhan.

Akibatnya akan berpengaruh kepada rantai makanan selanjutnya. Plankton mati, ikan pun wafat, demikian seterusnya. Termasuk tumbuh-tumbuhan, lama-lama kering dan mati.

Nah bila tumbuhan dan ikan mati, siapa yang akan menunggu mati selanjutnya?

Tapi itu adalah sejarah, pantas saja dinosaurus dan teman-temannya mati karena memang ada kejadian horor dan mengerikan berlaku di zamannya.

Tapi saat mobil yang saya tumpangi berhenti di lampu merah, saya menyaksikan proses kepunahan spesies kita sedang berlangsung dengan sebab yang kurang lebih sama.

Tak perlu menunggu debu pekat yang menghalangi matahari, banyak diantara kita yang malah menghindari matahari.

Siang hari kerjanya tidur, lalu malam bergadang. Bangun saat matahari sudah tinggi, tapi bergerak sedikit lalu tidur lagi. Malam bangun begadang hingga pagi.

Pasti tidak ada yang seperti itu selamanya, namun dalam kadar tertentu ada yang seperti itu. Maka laju kepunahan pun lebih lambat, tapi punah juga.

Dengan kata lain, tubuh akan punah alias rusak bila tidak terkena matahari. Maka bekerja di siang hari dan istirahat di malam hari, serta olah raga pagi hari adalah hidup yang ideal untuk memperpanjang usia.

Namun banyak karena alasan bertahan hidup, justru bekerja yang beresiko mempercepat kepunahannya. Jadi saat tiba di usia pensiun, justru dihinggapi banyak penyakit. Akhirnya…

Belum lagi hujan asam, bukan menghujani tanah, tapi menghujani langsung ke dalam tubuh kita melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Sudah pasti, banyak sel-sel yang menderita namun tak berkuasa protes. Setiap hari, asam yang dikonsumsi mencuri oksigen dalam darah, tinggal menunggu waktu. Sampai kapan darah di tubuh kita bisa bertahan dengan terus menerus defisit oksigen.

Dengan alasan bertahan hidup, justru hidup dengan pola yang mengancam kepunahannya sendiri.

Seperti kisah seorang copywriter yang berusia 20 tahunan, bekerja keras hingga tidak tidur selama 30 jam. Dia mengkonsumsi energydrink untuk membuat matanya selalu “menyala”.

Apa yang terjadi? Dia meninggal.

Dia mengalami “kepunahan” justru untuk alasan bertahan hidup.

Pertanyaannya, adakah yang rela bila orang yang kita cintai mengalami hal itu? Tidak perlu horor sampai meninggal, bukankah menderita sakit artinya menyita sumber daya hidup kita?

Hari ini, kita masih punya pilihan: abaikan atau peduli.

Hanya jika peduli, meluangkan waktu 1 jam untuk edukasi sangat mungkin menyelamatkan kehidupan -setidaknya- 1 keluarga, 1 generasi. Lupakanlah tentang komisi, mari bicara tentang tanggung jawab. Atau, kita menyaksikan kepunahan spesies kita sendiri.

Sesuatu yang mustahil terjadi bila tidak didahului kepunahan rasa cinta dan tanggung jawab.

Wallahu’alam

Depok, 5 April 2015

Ahmad Sofyan Hadi
-The Next Legend-
#6A2
#IamNEXT
#AmazingLCD

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s