Cerita Sang Guru (Bag I)


Suara putaran kipas terdengar menderu saat berputar mendorong angin. Pagi ini kipas angin belum mati, anak-anak masih tertidur pulas, kecuali Nova, anak paling besar.

Siang ini saya ada jadwal edukasi membantu salah satu tim di daerah Jakarta Barat. Kali ini saya merasa lebih ringan dalam melakukan edukasi, bukan karena tahu bakal menjadi Platinum Samurai di bulan Juni, tapi mendapat banyak pelajaran dari leader-leader dan buku.

Saya berterima kasih kepada Mr Libertus🙂

Dari sekian banyak cerita yang beliau paparkan, sambil ngantuk mendengarkannya, saya tertarik dengan 2 hal.

Oh ya, bagi yang belum kenal siapa Mr Libertus, beliau adalah LEADER kita yang join tahun 2008 dan sekarang sudah menikmati komisi Rp 2 M-an per bulan.

Di bawah beliau ada Pak Triadi Joko, lalu Pak Rama, Pak Teddy, dan Pak Andhyka. Itu yang saya ingat. Tapi intinya, bisa dibilang Mr Libertus ini “pemegang” Enagic Indonesia.

Saat diberitahu Pak Andhyka untuk meeting dengan Mr Libertus, saya sudah membayangkan akan ada jurus-jurus canggih mandraguna dalam menjalankan bisnis kangen water.

Bila tidak, mana mungkin beliau selalu menjadi nasabah prioritas di beberapa bank nasional hanya modal bisnis kangen water? Pastinya dong ada jurus-jurus sukses yang dia gunakan.

Nah saya pun semangat menemui beliau bersama leader KAT lainnya. Dan ternyata saudara-saudara…. sampai saya tertidur sambil duduk saking ngantuknya, tidak ada jurus sakti mandraguna yang saya tunggu-tunggu.

Semua cerita kesuksesan beliau adalah cerita yang sederhana. Namun disanalah saya melihat “kesaktiannya”.

Pertama adalah kisah Bahagia vs Keinginan.

Bahwa syarat closing adalah menjalankan bisnis ini dengan bahagia. Lalu syarat bahagia adalah tidak punya keinginan, bahkan untuk closing sekali pun.

Nah lho!

Saat kita punya keinginan agar prospek closing atau beli mesin, tanpa kita sadari kita menuntut dia untuk beli mesin. Lalu saat tuntutan kita menemui fakta diabaikan, kita jadi kecewa. Tak ada rasa bahagia sedikit pun.

Bahkan saat belum edukasi, kita sangat mungkin membawa beban “harus closing” sehingga tidak bahagia. Nah inilah sebab kenapa justru tidak closing.

Closing mensyaratkan bahagia, bahagia yang tinggi dihasilkan saat keinginan rendah. Namun saat keinginan tinggi, bahagia menjadi rendah.

Jadi saat mau edukasi, hapuskan keinginan untuk closing. Bahkan bersiaplah dengan kemungkinan terburuk. Jadi apa pun yang terjadi, kita sudah siap dan tidak kecewa.

Ini mengingatkan saya dengan konsep ikhlas. Bahwa hasil yang terbaik saat kita menyerahkan kepada Tuhan. Jadi usaha adalah kuasa kita, namun hasil kuasa Tuhan.

Maka di setiap edukasi, pikiran saya tidak ada beban. Bahkan sebelum melakukan edukasi, saya tidak memiliki harapan apa-apa. Just Do It!

Kemarin saya melakukan Home Sharing di Depok, ada sekitar 8 orang yang hadir. Saya merasakan presentasi yang paling menyenangkan. Kenapa? Karena saya membawakan presentasi dengan lepas, tak ada beban, menjadi diri sendiri.

Mungkin itulah yang dimaksud “bahagia”. Saya memang sudah melepas semua tuntutan kepada prospek. Mereka join atau tidak, bukan urusan saya. Biarkan Tuhan yang mengaturnya.

Termasuk melepas keinginan adalah keinginan terhadap barang, jasa, atau kondisi tertentu. Konteks “melepaskan” bukanlah tidak memiliki keinginan, namun keinginan tersebut dilepaskan untuk selanjutnya diserahkan kepada Tuhan.

Jadi hak kita adalah berniat atau membayangkan memiliki, lalu kuasa kita adalah berikhtiar. Namun masalah hasil biarkan Tuhan yang mengatur.

Dampaknya kita berfokus pada ikhtiarnya dengan membiarkan wujud keinginan “dipegang” Tuhan. Bila terwujud bersyukur, bila belum mungkin belum takdirnya. Enjoy aja.

Mengikuti saran Mr Libertus, hidup menjadi lebih tenang. Ada jam bagus Rp 3 jutaan di Pejaten Village, warnanya merah. Saya cuma tanya-tanya aja. Gak mau maksain beli pake kartu kredit. Soalnya ingat dengan petuah Sang Guru.

“Keinginan itu saat kamu maksain beli padahal belum mampu.”

Bukan apa-apa, prioritas keuangan saya memang sedang ke sekolah anak sama investasi. Jadi jam tangan belum mendesak. Toh masih ada yang lama.

Jadi bicara keinginan adalah bicara prioritas. Saya diajari untuk mengabaikan keinginan-keinginan sesaat, atau karena dorongan nafsu bukan kebutuhan.

Maka saya menikmati ketenangan, perasaan cukup, bersyukur, dan bahagia. Saya baru paham sekarang kenapa setiap kali ketemu Mr Libertus, beliau terlihat periang. Jauh dari kesan orang yang dikejar-kejar target.

Awalnya saya menduga faktor komisi, namun setelah dijelaskan konsep bahagia, baru saya paham. Karena hari ini pun saya bisa merasakan betapa saya bahagia.

Setelah saya merasakan bahagia, entah kenapa beberapa orang konfirmasi mau beli mesin. Setidaknya ada 3 orang yang Insya Allah beli mesin sd ramadhan. Padahal dulu rasanya tidak semudah ini.

Ringan. Itulah yang saya rasakan hari ini. Saya menikmati alur bisnis ini dengan ringan. Buat janji, edukasi, follow up, dan minta referensi.

Ini seperti putaran kipas angin yang berputar mengikuti irama dinamo. Putaran yang ringan, berpola, dan konsisten. Dampaknya mampu mendorong angin memberikan kesejukan..

Itulah yang saya alami. Tiap edukasi tak ada penolakan, minimal mereka bersikap positif dan bersedia memberi referensi. Mungkin seperti kipas angin, saya mampu mendorong energi bahagia dari dalam diri saya sehingga prospek merasakan antusias dan harapan…

Wallahu a’lam

Depok, 2 Juni 2015

Ahmad Sofyan Hadi
-The Next Legend-

#6A23
#IamNext
#AmazingLCD
#LeaderIsReader

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s