Cerita Sang Guru (Bag II)


Judul bukunya Getting Rich Your Own Way karya Scrully Blotnick. Saya coba searching di internet ternyata buku jadul namun telah menginspirasi buku-buku yang ditulis belakangan.

Satu yang selalu menjadi bahasan adalah kisah penelitian Scrully Blotnick terhadap 1500 orang. Ya, 1500 orang. Ini jumlah yang sangat banyak. Apa yang diteliti Blotnick terhadap mereka?

Blotnick membagi mereka dalam dua kategori, kategori A adalah mereka yang mengejar uang baru kemudian melakukan apa yang benar-benar mereka inginkan. Ada 1.245 orang yang berada di kategori ini.

Lalu kategori B yaitu mereka yang akan mengutamakan minat mereka dan percaya uang akan mengikuti mereka kemudian. Ada 255 orang di kategori ini.

Dua puluh tahun kemudian, ada 101 jutawan dari kedua group ini.

Tapi…..

Hanya 1 yang berasal dari group A, 100 orang lagi dari group B, group yang percaya bahwa mereka akan mewujudkan minat mereka dahulu, sesuatu yang selalu membuat mereka bergairah dan uang akan datang kemudian.

Barangkali ini yang terjadi kepada kita sejak kecil. Kita didik di sekolah, di rumah, bahkan di masyarakat untuk menjadi -sadar tidak sadar- kelompok A.

Masih ingat dengan pepatah “berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian”? Kita didoktrin untuk memaklumi rasa sakit atau ketidaknyamanan atau keterpaksaan untuk -katanya- masa depan yang gemilang.

Faktanya, semua proses berjuang tidak mesti sakit bila sesuai dengan hasrat kita. Seperti latihan basket, tidak dipandang sebagai kesakitan bagi para pemain.

Dampaknya, kita dituntut untuk memaklumi atau menerima pekerjaan yang tidak kita sukai, jauh dari hasrat kita dengan alasan: demi masa depan…

Padahal penelitian Blotnick justru membuktikan kebalikannya. Para jutawan hampir semuanya berasal dari mereka yang melakukan sesuatu sesuai gairahnya sejak awal.

Apa hubungannya dengan bisnis ini?

Saya teringat dengan pernyataan Coach Andhyka “kalo gue melihat Wawan sukses, Hilda sukses, disitulah ada harga yang sangat bernilai.”

Jujur saya lupa kata-kata persisnya, tapi intinya membuat seseorang dari bukan apa-apa menjadi seseorang yang dibanggakan keluarga bahkan masyarakat, itulah hasrat Coach Andhyka.

Dengan kata lain, mencetak orang sukses adalah hasratnya, menyediakan sebuah sarana yang bisa membangun kepribadian seseorang adalah minatnya.

Jauh sebelum bisnis kangen water, saya kenal Coach Andhyka, kalo bantu seseorang gak nanggung-nanggung. Kok saya tahu? Iya lah, saya salah satu orang yang beliau bantu.

Nah saat bertemu dg Sang Guru pun ternyata ada kesamaan. Saat terlilit hutang milyaran rupiah dan berstatus bangkrut, beliau masih bisa bantu orang, memberi pekerjaan, dengan “gaji pokok” beras, indomie, dan telor.

Setidaknya ada 3 orang yang dari kondisi morat-marit lalu bekerja kepada Mr Libertus, hingga akhirnya ketiga orang itu saat keluar kerja, sudah memiliki SIM A & C dan diberi motor.

Membantu seseorang dari susah menjadi berlimpah telah menjadi HASRAT Mr Libertus. Di bisnis ini hasrat itu semakin mendapat tempatnya.

Saya menemukan persamaan keduanya, sama-sama MILYARDER dan sama-sama BERHASRAT menyukseskan orang sejak sebelum kenal kangen water.

Apakah Anda memahami apa yang saya pahami?

Sebut saja Rani, sebenarnya namanya memang Rani, teman SMA saya yang hidupnya selalu mengeluh. Saat bertemu, saya tawarkan kangen water. Dia daftar jadi Rai Seller.

Penjualannya biasa aja, bahkan dibawah standar pada umumnya. Lalu saya teringat dengan kisah Sang Guru tentang membantu seseorang. Lalu saya pun bertekad membantu dia sampai sukses.

Saya telpon agar dia meminjam 10 juta, dia sanggupi. Lalu seminggu kemudian saya bilang, kalo ada 20 jutaan bisa ajukan kredit. Eh, dia dapat lagi.

Sekarang, dia sudah buat janji untuk edukasi. Sesuatu yang dulu tidak pernah dilakukannya. Saya juga gak tahu kenapa, tapi saya merasakan gairah dia lebih kuat menjalankan bisnis ini.

Mungkin, tekad saya membantu dia telah membangkitkan semangat dia. Walau pun saya tidak pernah mengungkapkannya secara langsung. Namun mungkin, dia merasakan energi saya.

Tampaknya, hasrat membantu berbeda dengan hasrat dalam olah raga. Ini bukan sekedar hasrat, namun memiliki energi berlipat saat disalurkan kepada “membantu sesama”.

Wajar saja, dua orang yang saya sebutkan di atas menjadi Milyarder hari ini, bukan masalah bisnisnya. Tapi ada hasrat yang membakar. Bukan hasrat biasa, tapi hasrat membantu orang.

Inilah barangkali yang membedakan saya dan mereka kemarin. Saya masih lebih banyak memikirkan diri sendiri disaat mereka sudah banyak memikirkan orang lain bahkan disaat mereka terpuruk.

Hari ini saya memutuskan untuk mulai menaruh minat pada sesama, membantu seseorang dari zero menjadi hero. Terima kasih Coach yang sudah menyediakan “rumah” bernama KAT.

Terima kasih Coach yang sudah membangun Pesantren KAT untuk melatih “Otot Berbagi” kami semakin kuat, semakin hebat.

Baru paham, kita semua sedang didesain menjadi milyarder -asal- berbagi dan membantu sesama sudah menjadi HASRAT.

Wallahu a’lam

Ahmad Sofyan Hadi
-The Next Legend-

#6A23
#IamNext
#AmazingLCD
#LeaderIsReader

Ingin tahu kenapa Kangen Water menyehatkan dan mampu mengubah kehidupan banyak orang? Kontak saya 081224294510🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s